Rabu, 29 September 2010

Aplikasi Teori Gagne dalam Mata Kuliah Wawancara


Aplikasi teori belajar Gagne juga terlihat dalam mata kuliah Psikodiagnostik 3 : Wawancara. Sama seperti mata kuliah Observasi, pertama kali masuk mata kuliah Wawancara, dosen juga memulai dengan menjelaskan kegunaan dari mempelajari mata kuliah ini, apa saja yang akan dipelajari dan tugas-tugas apa yang harus diselesaikan. Dosen juga mengatakan keuntungan dari menguasai metode wawancara dan mengaitkan dengan metode observasi. Sama seperti pada mata kuliah Observasi, tahap ini adalah tahap motivation, tahap dimana dosen memulai pembukaan dan memotivasi mahasiswa agar tertarik untuk mempelajari materi yang disajikan.
Pertemuan-pertemuan berikutnya diisi dengan presentasi dari teman-teman mengenai metode wawancara dan wawancara dalam berbagai setting. Setelah menjelaskan materi, kelompok presenter lalu membuka sesi tanya jawab. Setelah itu, kelompok presenter melakukan sebuah role play dengan skenario yang ada di buku, untuk membantu pemahaman mengenai materi yang telah disampaikan tadi. Setelah role play, barulah dosen menambahkan, mengoreksi dan memperjelas materi yang dirasa kurang jelas. Tahap presentasi adalah tahap apprehending dimana stimulus dihadirkan dan dirasakan. Kemudian tahap ini diikuti tahap acquisition (meng­-coding) dan retention (penyimpanan informasi dalam memori).
Aktivitas dalam mata kuliah ini tentu tidak hanya sebatas ini saja. Dosen memberikan beberapa tugas yang harus diselesaikan selama 1 semester. Beberapa tugas diantaranya adalah menyusun wawancara sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan perusahaan yang diterbitkan di koran dan melakukan wawancara recruitment dalam kelompok kecil yang terdiri dari tiga orang.
Baik pada tugas pertama maupun tugas kedua, kami harus menyusun sebuah rancangan wawancara. Rancangan ini tentunya harus sesuai dengan yang ada di buku. Pada saat membuat rancangan ini, kami semua berusaha me­­-recall informasi yang telah kami pelajari mengenai bagaimana format rancangan ini seharusnya. Pada tugas pertama, kami me-recall dan melakukan lateral transfer yaitu rancangan wawancara itu hanya dikaitkan dengan suatu jabatan tertentu. Pada tugas kedua, menurut saya, masih lateral transfer, karena pada tugas kedua, kami melakukan simulasi wawancara recruitment. Prakteknya masih secara teoritis dan hanya dengan teman-teman saja. Pada kelompok yang anggotanya tiga orang, satu orang berperan sebagai iter, satu sebagai itee dan satu lagi sebagai observer. Kemudian kami membuat rancangan wawancara dan itee menyiapkan CV dan surat lamaran. Setelah itu, kami melakukan wawancara singkat dan merumuskan prognosa. Saya menyebutkan tugas ini sebagai lateral transfer karena pada setting ini masih belum pada kondisi yang sesungguhnya. Jadi, masih hanya sebatas teoritis saja.
Tahap performance pada mata kuliah ini adalah pada saat ujian. Semua informasi yang telah diserap dituliskan dalam bentuk jawaban dari soal ujian. Kemudian dari jawaban inilah dosen memberikan nilai yang kemudian menjadi feedback bagi mahasiswa.
Sebenarnya teori Gagne ini telah banyak digunakan dalam proses belajar sehari-hari. Dalam pengamatan saya, hampir semua mata kuliah memakainya. Jadi, teori ini telah terbukti cukup efektif untuk digunakan.

Referensi :
Bigge, Morris L. 1982. Learning Theories for Teachers 4th Ed. New York : Harper & Row.
Read more "Aplikasi Teori Gagne dalam Mata Kuliah Wawancara..."

Belajar Observasi dengan Cara Gagne


Teori belajar Gagne banyak digunakan dalam kegiatan belajar di kampus. Contohnya saja dalam mata kuliah Psikodiagnostik 2 : Observasi. Pertama kali masuk mata kuliah Observasi, dosen memulai dengan menjelaskan kegunaan dari mempelajari mata kuliah ini, apa saja yang akan dipelajari dan tugas-tugas apa yang harus diselesaikan. Dosen juga mengatakan keuntungan dari menguasai metode observasi. Dengan semakin banyak alat tes yang sudah bocor ke masyarakat, metode observasi ini makin penting dan harus dikuasai. Menurut Gagne, tahap ini adalah tahap motivation, tahap dimana dosen memulai pembukaan dan memotivasi mahasiswa agar tertarik untuk mempelajari materi yang disajikan.
Pada pertemuan-pertemuan berikutnya, kami belajar tentang body language dan juga metode-metode yang digunakan dalam observasi misalnya metode pencatatan. Tahap ini adalah tahap apprehending, dimana stimulus dihadirkan dalam bentuk presentasi dan juga ceramah dari dosen. Setelah stimulus dihadirkan, mahasiswa yang mendengarkan, baik presentasi maupun ceramah dosen, melakukan tahap yang disebut acquisition, dimana stimulus yang dihadirkan tadi diproses. Kemudian informasi yang telah di-coding disimpan. Tahap ini dinamakan retention.
Pada awalnya, dosen sudah menjelaskan mengenai tugas yang harus dikumpulkan pada waktu ujian akhir. Tugas ini adalah tugas observasi lapangan. Pertama, kami harus mencari teori yang sesuai dengan hal yang ingin kami observasi. Kemudian menentukan subjek dan metode observasi. Setelah itu, barulah kami melakukan observasi di lapangan.
Pada saat mencari teori dan menentukan metode yang dilakukan dalam observasi, kami melakukan apa yang disebut Gagne sebagai recall. Kami mengingat kembali materi-materi yang pernah diajarkan dan disimpan sebelumnya. Informasi-informasi ini kemudian dituangkan dalam bentuk makalah.
Kemudian tahap selanjutnya adalah observasi lapangan. Pada saat observasi lapangan, kami melakukan generalization atau yang sering dikenal dengan transfer of learning. Menurut saya, proses yang terjadi adalah vertical transfer yaitu generalisasi pada level yang lebih tinggi. Pada saat belajar, kami mempelajari teori-teori yang ada di buku dan juga contoh-contoh situasinya. Misalnya dengan teori ini dan kondisi seperti ini, metode yang harus dipakai adalah metode A. Namun, pada kenyataannya, praktik di lapangan jauh lebih kompleks dari pada secara teoritis. Ada keadaan yang tidak terprediksi sebelumnya yang kemudian membuat kami harus mendiskusikan ulang, mencari solusi dan kemudian kembali merevisi makalah. Kami juga menemui berbagai macam kesulitan yang juga tidak terprediksi, kebanyakan disebabkan oleh situasi yang tidak mendukung. Hal ini menyebabkan observasi harus dilakukan berulang kali. Biarpun situasinya sama dengan yang digambarkan dalam buku, namun pada praktiknya masih banyak faktor-faktor yang harus dipertimbangkan. Oleh karena itu, saya merasa tahap ini adalah vertical transfer.
Setelah semua data terkumpul, kami lalu berdiskusi untuk menyempurnakan makalah yang pada mulanya hanya berisi teori saja. Makalah itu kemudian menjadi suatu bentuk hasil penelitian kualitatif. Pada pertemuan-pertemuan akhir sebelum ujian akhir, beberapa kelompok diminta untuk mempresentasikan bahan mereka di depan kelas. Tahap inilah yang disebut performance. Setelah kelompok selesai mempresentasikan hasil observasi mereka, dosen lalu memberikan feedback untuk kelompok mengenai apa-apa saja yang harus dilakukan untuk menyempurkankan hasil penelitian itu. Feedback ini sebenarnya bukan hanya untuk kelompok yang presentasi saja, tetapi juga untuk kelompok yang melakukan observasi dengan metode yang sama dengan kelompok presenter.
Delapan fase belajar Gagne digunakan dalam mata kuliah observasi ini membuat kami bisa menguasai metode observasi dengan lebih baik.
Referensi :
Bigge, Morris L. 1982. Learning Theories for Teachers 4th Ed. New York : Harper & Row.
Read more "Belajar Observasi dengan Cara Gagne..."

Kamis, 16 September 2010

Belajar Cara Thorndike


Kuliah di universitas tentu berbeda dengan SMA. Cara belajar juga harus berbeda. Cara belajar yang dulu dapat digunakan di SMA, tidak bisa lagi dipakai saat masuk perguruan tinggi. Pertama disebabkan oleh materi belajar yang semakin banyak. Ujian di perguruan tinggi hanya dilakukan dua kali, sedangkan di SMA enam kali. Hal ini tentu menyebabkan materi menyajdi sangat banyak. Dulu saat di SMA, jadwal ujian disusun satu hari hanya satu macam saja. Di perguruan tinggi, satu hari bisa sampai tiga macam, kemudian besoknya juga masih ada ujian lagi. Oleh karena itu,jika menginginkan nilai yang baik, cara belajar sistem kebut semalam bisa dipastikan tidak bisa lagi digunakan.
Pertama tentu saja saya tidak langsung menemukan cara belajar yang pas bagi saya. Saat pertama masuk, saya masih menggunakan sistem kebut semalam. Kemudian saat cara ini tidak lagi efektif, saya mengganti cara belajar dengan yang lain, sampai benar-benar menemukan cara belajar yang pas bagi saya. Dengan mencoba menemukan cara belajar yang tepat bagi saya sendiri, saya telah berproses dengan bentuk paling dasar dari teori Thorndike yaitu trial-and-error. Saya mencoba berbagai macam cara belajar sampai menemukan yang pas. Tanpa saya sadari, mencari cara belajar saja, saya telah melakukan suatu proses belajar.
Setelah mengikuti kuliah di psikologi, saya perlahan-lahan menyadari bahwa kita tidak bisa langsung mempelajari pengertian mendalamnya. Pelajaran ini saya dapatkan saat mengikuti mata kuliah Kepribadian.
Saya sangat tertarik dengan mata kuliah Kepribadian, jadi saya selalu merasa tidak sabar dan ingin langsung masuk pada ide utamanya. Setiap pertemuan pada mata kuliah ini, kami mempelajari satu tokoh yang mengemukakan suatu teori kepribadian. Pada buku referensi yang kami pakai, setiap tokoh didahului dengan riwayat tokoh tersebut, baru kemudian masuk ke teori yang dikemukakannya. Pada mulanya, saya langsung membaca teori yang dikemukakan. Saya selalu merasa riwayat hidup tokoh itu tidak penting untuk diketahui. Jadi, saya selalu merasa malas dan akhirnya melompati bagian itu. Namun, setiap kali membaca saya memang dapat mengerti dengan baik inti dari teori itu. Tapi, saya tidak mengetahui hal yang melatarbelakangi teori tersebut.
Pada waktu SMA, saya terbiasa hanya belajar inti dari suatu pelajaran dan tidak bertanya banyak mengenai latar belakang dari suatu teori. Hal ini disebabkan bahan yang diujikan selalu hanya intinya saja. Setelah beberapa pertemuan, dosen mengatakan bahwa riwayat tokoh disajikan dengan maksud agar kita bisa mengetahui apa yang melatarbelakangi tokoh itu mengemukakan suatu teori, tokoh apa yang mempengaruhi pandangan tokoh itu dan lain sebagainya. Kemudian, setiap pertemuan, kelompok presenter mulai mempresentasikan riwayat tokoh secara lebih mendalam. Dari sana, saya mulai mendapat insight dan lebih bisa memahami teori dari tokoh tersebut.
Pengalaman saya diatas mempunyai kaitan dengan yang dikatakan Thorndike bahwa “belajar adalah inkremental (bertahap), bukan langsung ke pengertian mendalam”. Dalam mempelajari suatu teori, kita harus mengetahui latarbelakang dari teori itu. Hal ini akan memudahkan kita untuk memahami teori ini dengan lebih baik lagi.
Sayangnya hal ini hanya saya terapkan dalam mata kuliah Kepribadian saja. Saat saya merespon dengan membaca riwayat pada mata kuliah Kepribadian, saya mendapatkan keadaan yang memuaskan. Oleh karena itu, kekuatan koneksi meningkat, sesuai dengan yang dikemukakan oleh Thorndike dalam Hukum Efek. Pada mata kuliah lain, saya tidak mendapatkan keadaan yang memuaskan dan setelah membaca beberapa saat, saya malah merasa terganggu dan menjadi semakin malas, sehingga koneksinya menurun. Menurut Thorndike, hal ini adalah prapotensi elemen yaitu kita biasanya merespon satu situasi tetapi tidak merespon dalam situasi yang lain. 
Referensi
Hergenhahn, B.R & Olson, Matthew H. 2008. Theories of Learning (Teori Belajar). Jakarta : Kencana Prenada Mulia.
Read more "Belajar Cara Thorndike..."
 

Great Morning ©  Copyright by Marisa Andra | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks