Selasa, 21 Desember 2010

UAS Online


Topik : Metode Pembelajaran yang Diterapkan oleh Dosen Psikologi Belajar
Metode pembelajaran yang diterapkan dalam kelas psikologi belajar sepenuhnya menggunakan pembelajaran kontekstual. Berikut penerapannya dalam tujuh komponen kontekstual :
1.      Konstruktivisme
Di awal mata kuliah ini, Bu Ika sudah menekankan bahwa di kelas psikologi belajar ini setiap orang harus membuat resume sebelum mengikuti perkuliahan. Dari sini kita bisa melihat bahwa mahasiswa diharuskan untuk terlebih dahulu mengkonstruksi sendiri pemahaman mengenai suatu topik sebelum mendengarkan penjelasan presentasi dari teman-teman. Teman-teman yang akan presentasi juga melakukan konstruktivisme dengan mengkonstruksi pemahaman mereka melalui sumber bacaan dan juga diskusi mereka baik dengan sesama teman kelompok maupun dosen.
2.      Inkuiri
Dalam mengkonstruksi pemahaman kita mengenai suatu topik, tentu tidak semua bahan ada di buku. Selain itu, bahan yang ada di buku belum tentu telah mencakup bahan-bahan yang terbaru dan bisa saja belum cukup lengkap. Oleh karena itu, Bu Ika membebaskan kami untuk mencari bahan dari sumber lain baik untuk resume maupun dalam pembuatan makalah. Bu Dina juga mendorong kami untuk banyak mencari referensi dari internet untuk membantu pemahaman kami.
3.      Bertanya
Dalam kelas, setiap selesai presentasi, banyak teman-teman yang mengajukan pertanyaan kepada teman-teman presenter. Hal ini tentu dimaksudkan untuk menggali lebih dalam lagi mengenai topik yang sedang dibahas. Selain itu, setelah selesai presentasi dan diskusi, dosen biasanya menjelaskan poin-poin yang masih ambigu. Kemudian dosen juga bertanya kepada mahasiswa. Pertanyaan yang diajukan terkadang berkisar antara ringkasan atau inti dari topik yang baru dipelajari, kaitan topik baru dengan topik lama dan juga kaitan teori dengan pengalaman sehari-hari mahasiswa.
4.      Masyarakat belajar
Setiap pertemuan di kelas psikologi belajar selalu ada diskusi. Biasanya diskusi dilakukan dengan seluruh mahasiswa di kelas dan juga dengan dosen. Diskusi inilah yang disebut dengan masyarakat belajar. Dalam diskusi, teman-teman mengajukan pertanyaan kepada presenter. Pertanyaan ini terkadang bahkan tidak terpikirkan oleh teman yang lain. Kemudian pertanyaan ini dijawab oleh kelompok presenter dan teman-teman lain yang mempunyai pemahaman mengenai topik ini akan menambahkan atau mungkin menyanggah. Hal ini membuat diskusi di kelas menjadi semakin komprehensif. Mahasiswa banyak belajar hal baru yang mungkin sebelumnya sama sekali asing baginya.
5.      Pemodelan
Untuk lebih membantu kami dalam memahami teori belajar yang telah dibahas di kelas, dosen menugaskan kami untuk melakukan observasi di sekolah. Metode belajar siswa di kelas, gaya belajar guru dan juga interaksi antara guru dan siswa di kelas menjadi model yang kemudian memberikan kami kesempatan untuk dapat melihat secara langsung bentuk konkrit dan penerapan dari teori belajar yang telah dipelajari di kelas. Selain itu, dari observasi bisa dilihat variasi dari tiap-tiap teori yang telah dipelajari. Guru di kelas biasanya tidak hanya mengadopsi satu teori belajar saja, tetapi guru cenderung menggabungkan beberapa teori dalam mengajar. Dari observasi, kita akan mengetahui bagaimana tiap teori itu bisa dikombinasikan menjadi suatu metode pembelajaran yang efektif.
6.      Refleksi
Dalam kelas psikologi belajar ini, kami banyak melakukan refleksi. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, di akhir perkuliahan, dosen mendorong mahasiswa untuk mengaitkan teori yang telah dipelajari dengan pengalaman kita sehari-hari baik di kampus maupun di luar kampus. Pengaitan ini akan membuat apa yang telah kita pelajari menjadi meaningful. Apa yang telah dipelajari tidak akan cepat dilupakan dan kita juga merasa dekat dengan teori tersebut karena kita menyadari bahwa sebenarnya setiap hari, baik secara sadar maupun tidak sadar, kita telah menerapkan teori tersebut. Pengaitan teori ini juga membuat kita sadar bahwa setiap waktu, setiap saat dan dalam setiap kesempatan, kita selalu melakukan proses belajar.
7.      Penilaian sesungguhnya
Guna melihat perkembangan mahasiswa, dosen perlu melakukan penilaian. Penilaian ini tentu saja tidak sebatas dari ujian saja. Dalam kelas psikologi belajar ini, dosen melakukan penilaian dari beberapa sumber. Pertama dan yang terpenting tentu saja dilihat dari hasil ujian baik di UTS maupun di UAS. Kedua, penilaian juga dilakukan dari makalah kelompok dan seberapa jauh mahasiswa menguasai bahan ketika presentasi di depan kelas. Ketiga, penilaian juga dipertimbangkan dari tugas-tugas mahasiswa. Tugas-tugas seperti resume dan tugas individu dimaksudkan untuk melihat seberapa jauh pemahaman tiap-tiap mahasiswa tentang topik yang diulas dan juga untuk melihat seberapa banyak usaha yang dikeluarkan untuk membuat tugas tersebut.  Terakhir, penilaian dilihat dari hasil tugas kelompok mengenai observasi di sekolah. Dari laporan observasi, bisa dilihat seberapa jauh pemahaman siswa mengenai seluruh topik yang sudah dipelajari. Apakah mahasiswa bisa mengaitkan teori-teori belajar dengan pengalaman nyata di lapangan ataukah semua teori tersebut sebenarnya masih ambigu? Selain keempat poin yang telah disebutkan, mungkin ada beberapa hal lain yang akan dijadikan pertimbangan, seperti keaktifan mahasiswa baik di kelas ataupun di dunia maya (blog) dan juga layout blog dari tiap-tiap mahasiswa. Melalui beberapa poin yang telah saya sebutkan diatas, dosen memberikan penilaian kepada mahasiswa. Hasil penilaian bisa berupa nilai yang nantinya akan tertera di KHS, bisa pula berupa feedback yang diberikan oleh dosen kepada tiap-tiap mahasiswa, baik secara langsung ataupun melalui komentar di blog.
Read more "UAS Online..."

Kamis, 09 Desember 2010

Pengalaman TO dan Kaitannya Dengan Teori Belajar

Mungkin try out bukan lagi merupakan fenomena yang luar biasa bagi kita. Dari SD sampai sekarang, teman-teman tentunya pernah mengikuti berbegai macam try out. Saya sendiri sudah pernah mengikuti berbgai macam try out  seperti TO UN dan TO UMB. Namun TO yang kali ini tentunya berbeda dan merupakan pengalaman yang baru bagi kita semua. Ujian online juga sebenarnya merupakan sesuatu yang baru. Biasanya kita ujian dengan sistem paper and pencil. Untuk membantu kita beradaptasi dengan sistem yang baru ini dan juga untuk mencari tahu segala macam kendala yang mungkin terjadi, diadakanlah try out ini. Selama TO 1 dan TO 2, banyak hal baru yang saya alami. Berikut saya akan mencoba mengulas dengan beberapa teori belajar yang sudah dipelajari selama semester ini :

1.      Teori Belajar Thorndike
Menurut Thorndike, belajar adalah trial and error. Dalam melakukan TO, sebenarnya kita juga sudah menggunakan trial and error ini. Teman-teman mungkin mencoba suatu cara dalam menjawab soal TO 1, bila hasilnya memuaskan, maka cara inilah yang akan terus digunakan sampai ujian. Tetapi bila tidak memuaskan, maka cara yang lain akan dicoba dalam TO 2.
TO ini juga dimaksudkan untuk menyiapkan kita untuk menghadapi ujian yang sebenarnya. Sesuai dengan law of readiness Thorndike, bila kita sudah siap melakukan sesuatu, maka melakukannya akan menyenangkan. Untuk menyiapkan kita menghadapi ujian yang sesungguhnya, TO sekali saja tentunya belum cukup. Oleh karena itu, TO dilakukan sebanyak 2 kali, untuk membantu kita agar lebih siap. Dalam hal ini, law of exercise Thorndike terlihat.

2.      Teori Belajar Skinner
Skinner mengemukakan suatu konsep yang disebut chaining dimana suatu stimulus menghasilkan suatu respond dan respon yang dihasilkan akan menjadi stimulus yang baru yang juga akan memunculkan  respon lainnya. Dalam TO yang pertama, soal pertama merupakan stimulus yang memunculkan respon yaitu mahasiswa mulai menjawab dan setelah sebagian besar jawaban diposting, jawaban itu menjadi stimulus kedua yang akan menghasilkan respon posting soal kedua. Demikian seterusnya sampai TO 1 selesai.

3.      Teori Belajar Bandura
Keempat proses belajar Bandura bisa digunakan untuk menjelaskan proses TO ini :
        Proses Atensional
Sebelum memulai mengerjakan soal TO, kita harus terlebih dahulu memperhatikan soal tersebut. Soal TO diposting di blog sehingga semua orang bisa melihatnya.
        Proses Retensional
Setelah membaca soal, kita memproses soal tersebut secara kognitif. Kemudian, kita mengkaitkannya dengan informasi yang telah kita pelajari sebelumnya.
        Proses Pembentukan Perilaku
Setelah itu, kita menuangkan apa yang ada di pikiran kita ke dalam bentuk prilaku menjawab soal. Kita mengetikkan jawaban dalam bentuk tulisan dan kemudian memposting jawaban tersebut di blog.
        Proses Motivasional
Proses TO sebagian besar sudah selesai. Setelah jawaban kita posting, Bu Dina akan memposting komentar di blog masing-masing. Hal ini akan menjadi feedback yang memotivasi kita untuk bisa mengerjakan dengan lebih baik lagi.

4.      Teori Belajar Pask
Pask mengatakan bahwa conversation bisa terjadi antara manusia dengan mesin. Dalam proses TO ini jelas terlihat bahwa kita melakukan conversation dengan mesin yaitu komputer dan internet sebagai perantara. Dalam TO ini, kita mengeskpresikan pendapat kita mengenai apa yang ditanyakan dalam soal TO yaitu pengalaman kita dan dikaitkan dengan teori.

5.      Teori Belajar Konstruktivis
Melalui proses TO ini, kita mengkonstruksi pengetahuan kita sendiri dalam mengaitkannya dengan pengalaman kita dalam TO. Kontruksi pengetahuan ini akan membuat kita akan lebih dapat memahami segala teori belajar yang sudah kita pelajari sebelumnya.

Demikian ulasan pengalaman saya berdasarkan teori yang telah dipelajari.
Read more "Pengalaman TO dan Kaitannya Dengan Teori Belajar..."

Kamis, 02 Desember 2010

Kelebihan dan Kelemahan Ujian Online


Untuk kelebihan dari ujian online ini pertama terletak pada kemudahan kita untuk dapat mengakses berbagai informasi di internet sehingga membuat kita lebih siap untuk ujian, (law of readiness, Thorndike)
Kedua, ujian online ini lebih menguji kemampuan kita bukan pada tataran knowledge (pengetahuan) tetapi sudah pada level pemahaman. Untuk menguji pemahaman ilmu yang sudah dipelajari dalam kuliah di kelas, dalam ujian online ini kami diminta untuk mengulas dengan teori-teori yang sudah dipelajari sebelumnya. (taksonomi Bloom)
Terakhir, Ausubel mengatakan bahwa belajar itu akan lebih bermakna bila dikaitkan dengan pengalaman pembelajar. Dalam ujian ini diuji apakah mahasiswa sudah melakukan meaningful learning dengan meminta mahasiswa untuk mengaitkan pengalaman dengan teori yang sudah dipelajari.
Kelemahan dari ujian online ini adalah untuk menguji level pemahaman dari teori taksonomi Bloom maupun meaningful learning dari Ausubel sebenarnya bisa juga dilakukan dengan ujian konvensional. Ujian yang dilakukan secara online kemudian mungkin juga mengalami masalah seperti koneksi internet ataupun masalah ketersediaan listrik.
Selain itu, ujian secara online mungkin juga menyebabkan mahasiswa tidak mempersiapkan diri dengan baik karena mereka mungkin merasa masih bisa melihat referensi dari internet. Ketidaksiapan seseorang dalam melakukan sesuatu, menurut Thorndike, akan menyebabkan hasil yang didapatkan kurang memuaskan.
Read more "Kelebihan dan Kelemahan Ujian Online..."

Pendekatan dengan Teori Pask dan Thorndike


Pengalaman yang telah saya uraikan akan coba saya bahas dengan teori conversation Pask. Dalam meminjam modem, saya melakukan conversation dengan teman saya dengan maksud mempersuasinya agar dia mau meminjamkan modemnya kepada saya. Selain itu, dalam usaha saya meng-add teman-teman, saya juga melakukan conversation dengan mereka.
Selain teori Pask, law of practice dari teori Thorndike juga bisa terlihat yaitu berhubungan dengan baterai laptop saya. Selama ini saya belum pernah melakukan ujian online, belum pernah menggunakan modem portable dan belum pernah memakai internet dengan laptop. Hal ini membuat saya tidak dapat memperkirakan umur baterai laptop saya. Setelah hal ini dilakukan beberapa kali, saya mungkin dapat mempersiapkan dengan lebih baik lagi.
Selain itu, law of practice juga saya gunakan dalam me-refresh beberapa materi yang telah dipelajari sebelumnya.
Read more "Pendekatan dengan Teori Pask dan Thorndike..."

Kesan Uji Coba Ujian Online

Persiapan untuk ujian online ini saya mulai dengan meminjam modem pada teman. Modem yang biasa saya pakai untuk online itu bukan modem yang portable yang bisa dibawa-bawa. Untung seorang teman bersedia meminjamkan modemnya kepada saya dan juga bersedia membantu men-setting modem tersebut di laptop.
Namun, kekhawatiran saya tidak hanya terbatas pada modem. Kekhawatiran lain terletak pada baterai laptop. Hal ini tidak begitu mengganggu saya karena biasanya baterai laptop saya bisa bertahan hingga dua jam dan saya pikir simulasi ujian ini tidak akan berlansung lebih dari itu.
Ternyata, ada faktor-faktor yang tidak saya pertimbangkan. Laptop saya harus meng-­install aplikasi modem yang memakan lumayan banyak energi. Kemudian masalah tidak selesai sampai disini. Laptop saya tiba-tiba hank sehingga saya terpaksa harus me-restart laptop saya sehingga umur baterainya kembali berkurang. Saat ini baterainya hanya bisa bertahan satu jam saja.
Untuk persiapan lain, sebelum masuk saya juga meng-add gmail teman-teman untuk mempermudah komunikasi saat ujian nanti. Saya juga sedikit me-refresh materi yang akan diujikan.
Read more "Kesan Uji Coba Ujian Online..."

Rabu, 17 November 2010

Laporan Observasi di IBBI




Lokasi observasi
STIE IBBI
Jl. Sei Deli No. 18
Telp. (061) 4567111
Fax.  (061) 4527548
Medan - 20114
Indonesia

Waktu observasi
Observasi dilakukan pada hari Selasa, 16 November 2010.
Waktu observasi pukul 11.05 WIB - 12.20 WIB.

Subjek yang diobservasi
Ø  Dosen : Ms. Arinda
Ø  Mahasiswa S1 Akuntansi yang berjumlah 28 orang dan sedang mengikuti mata kuliah Bahasa Mandarin.

Objek observasi
Ø  Suasana kelas pada saat mata kuliah Mandarin berlangsung
Ø  Interaksi dosen dan mahasiswa

Uraian hasil observasi
Pukul 11.05 WIB, dosen masuk ke kelas. Suasana kelas masih belum tenang. Dosen menugaskan ketua kelas untuk memfotokopi bahan/materi yang akan dipelajari hari itu. Kelas masih ribut, dosen berusaha menenangkan. Dosen meminta mahasiswa mengumpulkan tugas yang diberikan minggu lalu. Kelas kembali ribut dan dipenuhi suara protes. Beberapa mahasiswa maju dan mengumpulkan tugas teman-temannya. Mahasiswa lain sibuk berbicara dengan temannya. Dosen meminta mahasiswa menghapal 1 – 10 dalam bahasa Mandarin. Setiap minggu sebelum memulai materi baru, dosen menyuruh mereka untuk menghapalnya. Dosen mengatakan bahwa dia akan meminta mahasiswa maju satu per satu ke depan untuk melafalkannya di depan kelas. Ketua kelas kembali dan membagikan bahan kepada temannya.

Dosen mengoreksi tugas yang sudah dikumpulkan. Kelas sangat ribut. Dosen menenangkan dan meminta seorang mahasiswa maju ke depan untuk menghafalkan 1 – 10. Kemudian, satu per satu mahasiswa dipanggil. Seorang mahasiswa yang disuruh maju terlihat gugup. Mahasiswa tersebut salah melafalkan dan teman-temannya menertawakannya.

Materi yang diajarkan pada hari itu adalah mengenai ”goresan” aksara mandarin. Dosen mencatat materi di papan tulis. Mahasiswa di barisan depan terlihat sibuk mencatat. Sementara mahasiswa di barisan belakang terlihat mengobrol. Dosen meminta ketua kelas untuk mengisi tinta spidol. Mahasiswa yang lain masih sibuk mencatat. Dosen berkeliling memeriksa catatan siswa dan mengoreksi tulisan yang salah. Seorang mahasiswa bertanya kepada dosen. Teman di sampingnya menyindir dengan mengatakan bahwa pertanyaan yang diajukan sangat mudah. Dosen mulai berjalan kembali ke depan. Sementara mahasiswa mencatat, dosen mengabsen mahasiswanya. Spidol selesai diisi. Dosen kembali mencatat di papan tulis. Kelas kembali ribut.

Setelah dosen selesai mencatat, dosen menyuruh mahasiswa melanjutkan mencatat. Setelah semua selesai, dosen membaca aksara mandarin di papan tulis. Dosen membaca sekali dan memberikan instruksi agar mahasiswa ikut membaca. Dosen kemudian menjelaskan dan mahasiswa serius mendengarkan. Kemudian dosen meminta mahasiswa membaca sekali lagi dan dosen mengoreksi apabila ada kesalahan. Setelah selesai, dosen memuji mahasiswa. Mahasiswa bersorak gembira. Kelas kembali ribut.

Dosen membahas bersama mahasiswa beberapa contoh yang ada di papan tulis. Untuk tiap goresan, dosen memberikan satu contoh aksara mandarin, misalnya untuk goresan (heng2) dosen memberi contoh aksara (liu4 ; enam). Ketika dosen menerangkan cara penulisan dari aksara, seorang mahasiswa bertanya untuk menegaskan apa yang dijelaskan oleh dosen. Dosen kembali menerangkan dan sesekali bertanya kepada mahasiswa. Kemudian dosen me-review sekali lagi materi yang sudah diajarkan.

Dosen kemudian menyuruh mahasiswa mencatat di buku tugas dan mahasiswa diberi tugas untuk latihan menulis aksara Mandarin yang diajarkan hari ini. Dosen menuliskan contoh di salah satu buku tulis mahasiswa dan kemudian buku tulis itu di-passing ke belakang. Mahasiswa tampak sibuk menulis dan dosen berkeliling memeriksa pekerjaan mereka.

Di sela-sela menunggu mahasiswa menulis, dosen bertanya apakah mahasiswa menyukai materi yang diajarkan pada hari itu. Seorang mahasiswa tampak bercanda dan membuat teman-temannya tertawa. Setelah itu, dosen tetap menunggu mahasiswa menulis. Pekerjaan mahasiswa selesai dan dosen menyudahi perkuliahan pada pukul 12.20 WIB.

Telaah Hasil Observasi Menurut Teori Belajar

1. Teori Thorndike
Salah satu konsep Thorndike yang dapat menggambarkan proses belajar yang terjadi dalam kelas adalah Law of Practice / Hukum Latihan.

Contohnya :
  1. Setiap minggu sebelum masuk kelas, dosen akan meminta mahasiswa menghapal 1-10 dalam bahasa Mandarin. Dosen melatih mahasiswa agar dapat mengingat konsep tersebut.
  2. Ketika dosen membaca aksara di papan tulis, dosen memberikan instruksi agar mahasiswa mengikutinya. Setelah itu, dosen meminta mahasiswa mengulanginya sendiri selama beberapa kali.
  3. Selesai membaca, dosen memberikan tugas untuk menulis beberapa aksara di buku tugas. Mahasiswa ditugaskan untuk berlatih menulis di rumah.

Prinsip Thorndike lain yang bisa ditemukan dalam proses pembelajaran yang diobservasi adalah ’belajar bersifat incremental (bertahap)’. Dosen pertama mengajarkan ejaan terlebih dahulu untuk membantu mahasiswa dalam melafalkan aksara mandarin. Kemudian dosen mengajarkan goresan mandarin yang menyusun suatu aksara mandarin. Dalam pelajaran goresan dijelaskan bagaimana bentuk goresan, bagaimana pelafalannya dan bagaimana tata cara penulisannya.

2. Teori Bandura
Belajar dapat terjadi melalui modeling. Proses modeling dapat dilihat ketika mahasiswa mengikuti dosen yang sedang membaca aksara di papan tulis. Ketika diminta mengulanginya, sebagian mahasiswa sudah bisa melakukannya dengan baik.

Untuk membuat bahan yang diajarkan lebih mudah diterima dan diserap, dosen melakukan tahap dibawah ini :
  1. Proses atensional
Pertama, dosen berusaha menenangkan kelas yang masih ribut sejak dosen masuk. Dosen berusaha memastikan semua mahasiswa memperhatikan ke depan agar informasi yang akan disampaikan bisa dipahami oleh semua mahasiswanya. Setelah semua mahasiswa tampak memperhatikan, barulah dosen memulai pelajaran.

  1. Proses retensional
Proses ini adalah proses yang terjadi di dalam diri individu. Ini adalah tahapan dimana informasi yang disampaikan oleh dosen disimpan untuk digunakan nanti. Jenis simbolisasi pada tahap ini adalah simbolisasi verbal dimana informasi yang disimpan adalah informasi yang disampaikan oleh dosen secara verbal atau dalam bentuk kata-kata.
Bandura mengatakan guru harus mempertimbangkan kemampuan verbal siswa saat akan merencanakan modeling. Dosen mempertimbangkan kemampuan verbal mahasiswa. Ada mahasiswa yang belum fasih berbahasa mandarin. Oleh karena itu, dalam menjelaskan, dosen menggunakan dua bahasa. Hal ini akan membantu proses retensional.

  1. Proses pembentukan prilaku
Setelah sesuatu diperhatikan dan disimpan, dosen harus mempertimbangkan ketrampilan motorik yang dibutuhkan untuk memproduksi ketrampilan yang telah dipelajari tersebut, dalam hal ini ketrampilan untuk mengucapkan aksara mandarin dengan tepat. Untuk memastikan mahasiswa menguasai ketrampilan itu, pada pertemuan sebelumnya dosen telah mengajarkan ejaan mandarin kepada mahasiswanya.

  1. Proses motivasional
Dosen memuji mahasiswa untuk memotivasi mereka agar ketrampilan yang telah dipelajari diproduksi dalam bentuk prilaku.

3.      Teori Skinner
Dosen di dalam kelas memberikan positive reinforcement kepada mahasiswa. Misalnya, ketika mereka selesai membaca aksara di papan tulis, dosen memuji bahwa intonasi mereka sudah bagus. Dengan adanya pujian tersebut tentunya akan memunculkan rasa bangga dan motivasi dalam diri mereka.

4. Teori Ausubel
Struktur kognitif yang dimiliki setiap individu berbeda-beda. Menurut Ausubel, salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam proses belajar adalah masalah budaya. Berdasarkan hasil observasi, terlihat beberapa mahasiswa sudah lebih fasih dalam bahasa Mandarin. Dalam hal ini, terdapat beberapa kemungkinan yaitu mungkin beberapa mahasiswa sudah pernah mempelajari Mandarin sebelumnya di sekolah atau kursus tertentu. Mungkin juga dalam kehidupan sehari-hari, mereka menggunakan bahasa Mandarin untuk berkomunikasi. Sebagian lagi masih merasakan kesulitan dikarenakan mungkin mereka tidak pernah mendapatkan pelajaran Mandarin sebelumnya. Hal ini diperhatikan oleh dosen dalam mengajar. Saat mengajar, dosen lebih memperhatikan beberapa mahasiswa yang memang belum pernah belajar bahasa Mandarin sebelumnya.

Model pembelajaran yang terjadi dalam kelas adalah rote reception learning. Mahasiswa mempelajari Mandarin dengan menghafal dan tidak mengaitkan apa yang sudah dipelajari dengan sesuatu yang bermakna. Selain itu, mahasiswa juga hanya menerima apa yang disampaikan oleh dosen dan tidak belajar dengan mencari tahu sendiri.

Dalam catatan yang dituliskan dosen di papan tulis, terdapat kolom ’contoh’. Dari sini kita bisa melihat bahwa dosen menggunakan derivative subsumption. Dosen memberikan contoh dari konsep yang sedang dipelajari. Hal yang kurang adalah dosen tidak mengaitkan semua contoh dengan sesuatu yang bermakna sehingga ada kemungkinan mahasiswa akan sulit mengingat. Hanya beberapa contoh yang dikaitkan dengan materi pelajaran yang lalu yaitu dosen mengaitkan goresan (heng2) dengan aksara (liu4 ; enam) yang telah dipelajari sebelumnya.

5. Teori Piaget
Dengan mengaitkan hasil observasi dengan teori Piaget, bisa dilihat bahwa proses kognitif terjadi, yaitu :

1.      Asimilasi
Asimilasi adalah pencocokan atau penyesuaian antara struktur kognitif dengan lingkungan fisik. Bagi mahasiswa yang sebelumnya telah pernah belajar Mandarin, mereka melakukan proses asimilasi yaitu mencocokan ide sebelumnya dengan ide baru yang sedang diajarkan oleh dosen.

2.      Akomodasi
Akomodasi adalah memodifikasi struktur kognitif agar sesuai dengan lingkungan. Untuk mahasiswa yang belum pernah mempelajari bahasa Mandarin sebelumnya, mereka melakukan proses akomodasi. Struktur kognitif dimodifikasi dengan memasukkan informasi baru yang diajarkan dosen.

3.      Equilibrasi
Jika struktur kognitif mahasiswa ada yang berbeda dengan apa yang sedang diajarkan oleh dosen, maka mahasiswa itu akan melakukan equilibrasi.

6. Teori Pask
Jenis conversation yang terjadi dalam kelas yaitu :
  • Monolog. Monolog terjadi pada mahasiswa setelah mendengarkan penjelasan dari dosen mungkin menginternalisasi informasi yang telah disampaikan.
  • Dialog. Dialog terjadi ketika dosen bertanya apakah mahasiswa menyukai apa yang telah mereka pelajari hari ini.
  • Dialektik. Mahasiswa melakukan conversation untuk mencari kebenaran dengan bertanya pada dosen.
  • Construction. Semua yang diajarkan oleh dosen pada mata kuliah ini bertujuan untuk membangun pemahaman yang baru mengenai bahasa Mandarin.

Kesimpulan
Proses observasi berlangsung dengan baik. Kami dapat melihat bagaimana sebenarnya sistem perkuliahan di perguruan tinggi swasta, bagaimana cara mengajar seorang dosen, bagaimana respon dari mahasiswanya, dan bagaimana interaksi dari keduanya.

Setelah melakukan observasi, kami melakukan proses penyusunan laporan. Kami melakukan diskusi online untuk membahas apa saja teori yang dapat digunakan untuk dapat dikaitkan dengan hasil observasi.

Daftar pustaka
B. R. Hergenhahn & Matthew H. Olson (2009). Theories of Learning. Edisi Ketujuh. Jakarta : Kencana
Driscoll, Marcy P.1994. Psychology of Learning for Instruction. Boston : Allyn and Bacon

Testimoni Perencanaan, Pelaksanaan hingga Penyelesaian tugas
Testimoni Marisa
Sebelum menentukan hendak observasi di IBBI, kami telah mengunjungi dua fakultas di USU, diantaranya Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi. Namun, kedua fakultas itu meminta surat pengantar untuk dapat memproses permintaan kami. Pada saat kami pergi meminta izin (Senin, 15 November 2010) waktu sudah tidak memungkinkan untuk mengurus surat pengantar.

Pada saat itu, saya teringat kakak saya yang bekerja sebagai staf pengajar di IBBI. Kemudian saya segera menghubunginya untuk bertanya apakah memungkinkan bila kami observasi disana. Jawaban dari IBBI datang 3 jam setelahnya dan kami diminta datang observasi hari Selasa, 16 November 2010 pukul 11.00 WIB.

Secara umum, observasi di universitas lain sangat menyenangkan. Kami bisa mengetahui bagaimana proses pembelajaran di universitas lain yang selama ini hanya kami dengan lewat cerita teman. Apalagi universitas yang kami kunjungi adalah universitas swasta yang tentu saja berbeda dengan USU yang merupakan Universitas Negeri.

Setelah observasi, dimulailah proses menulis laporan. Dengan menulis laporan, kami belajar banyak dan kembali mendalami semua teori belajar yang telah dipelajari sebelumnya.

Testimoni Calvina
Waktu untuk perencanaan observasi cukup mendesak. Hari Senin tanggal 15 November 2010, kami pergi ke 2 fakultas untuk meminta izin observasi. Kedua fakultas meminta surat untuk memproses izin kami. Ternyata Marisa mempunyai kenalan yang bekerja di IBBI. Kami diperbolehkan untuk melakukan observasi esok harinya.

Observasi dilakukan ketika mata kuliah mandarin. Banyak hal-hal lucu yang terjadi di dalam kelas. Sambutan dari dosen dan mahasiswa disana juga cukup baik. Observasi di IBBI menyenangkan. Untuk menyelesaikan laporan, kami memutuskan untuk melakukan diskusi online.

Dokumentasi


 
Read more "Laporan Observasi di IBBI..."
 

Great Morning ©  Copyright by Marisa Andra | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks