Rabu, 10 November 2010

Konstruktivisme


Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Pendekatan konstruktivisme mempunyai beberapa konsep umum seperti:
1.      Pelajar aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah ada.
2.      Dalam konteks pembelajaran, pelajar seharusnya membina sendiri pengetahuan mereka.
3.      Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui proses saling mempengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru.
4.      Unsur terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya secara aktif dengan cara membandingkan informasi baru dengan pemahamannya yang sudah ada.
5.      Ketidakseimbangan merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama. Faktor ini berlaku apabila seorang pelajar menyadari gagasan-gagasannya tidak konsisten atau sesuai dengan pengetahuan ilmiah.
6.      Bahan pengajaran yang disediakan perlu mempunyai perkaitan dengan pengalaman pelajar untuk menarik minat pelajar.
Pendekatan konstruktivisme dalam pengajaran menekankan pengajaran top down daripada bottom-up, artinya siswa memulai dengan masalah kompleks untuk dipecahkan.
Pembelajar dalam kontruktivis :
1.      Pembelajar adalah individu yang unik
Setiap pembelajar adalah individu yang unik dengan kebutuhan dan latar belakang yang berbeda. Oleh karena itu, hal ini harus dipertimbangkan dalam proses belajar.
2.      Pentingnya latar belakang dan budaya pembelajar
Penting untuk mempertimbangkan latar belakang dan kebudayaan dalam proses belajar karena latar belakang membantu kita memahami bagaimana seorang individu menciptakan atau menemukan informasi dalam proses belajar.
3.      Tanggung jawab untuk belajar
Individu harus terlibat aktif dalam proses belajar dan membangun pemahaman mereka sendiri.
4.      Motivasi untuk belajar
Motivasi untuk belajar tergantung pada kepercayaan diri seorang individu terhadap potensinya. Dengan berhasil menyelesaikan tugas menantang di masa lalu, seorang individu akan lebih percaya diri dan termotivasi untuk menghadapi tugas lain yang lebih kompleks.
Peran Instruktur :
Menurut pendekatan konstruktivis, pengajar berperan sebagai fasilitator dengan membantu individu mendapatkan pemahamannya sendiri. Seorang fasilitator memberikan dukungan dari belakang, menyediakan petunjuk untuk individu agar mampu mendapat kesimpulan dari apa yang dipelajarinya, dan berdialog dengan siswanya.
Beberapa strategi belajar kooperatif yaitu :
  • Jigsaw Classroom: siswa menjadi “ahli/pakar” dalam suatu tugas kelompok dan mengajari siswa lainnya dalam kelompom tersebut.
  • Structured Controversies: Siswa bekerja bersama dalam meneliti masalah tertentu.
Beberapa kondisi belajar yang diperlukan untuk mencapai tujuan konstruktivisme :
1.      Menyediakan lingkungan belajar yang kompleks dengan melakukan aktivitas nyata.
Tokoh konstruktivis percaya bahwa menyederhanakan tugas akan mencegah siswa untuk belajar bagaimana menyelesaikan masalah yang kompleks yang akan mereka hadapi dalam kehidupan nyata.
2.      Memfasilitasi social negotiation sebagai bagian penting dalam belajar.
Konstruktivis menekankan pada kolaborasi sebagai fitur penting dalam lingkungan belajar. Kolaborasi tidak hanya dengan meminta siswa bekerja sama dalam kelompok atau saling berbagi ilmu pengetahuan mereka dengan siswa yang lain. Kolaborasi memungkinkan munculnya insight dan solusi.

Fungsi kolaborasi lainnya dalam lingkungan belajar adalah untuk membantu siswa memahami sudut pandang orang lain.
3.      Penjabaran isi pembelajaran dengan memasukkan multiple modes of representation
Spiro dan koleganya mencetuskan multiple juxtapositions of instructional content. Untuk menghindari pemahaman parsial adalah dengan memahami materi yang sama dengan berbagai perspektif yang berbeda. Kemudian, dengan menggunakan multiple modes of representation, melihat materi melalui berbagai sensori yang berbeda (seperti visual dan auditory), bisa memungkinkan kita untuk melihat berbagai aspek yang berbeda.
4.      Nurturance reflexity
Reflexivity menurut Cunningham adalah kemampuan siswa untuk menyadari peran mereka dalam proses pembentukan pengetahuan. Dengan reflexivity, sikap kritis muncul dalam diri siswa yaitu sebuah sikap yang membantu mereka untuk lebih menyadari bagaimana dan struktur apa yang mempunyai arti. Ketika siswa menyadari bahwa seperangkat asumsi tertentu membentuk pemahaman mereka, mereka bebas mengeksplorasi apa yang dapat dihasilkan oleh seperangkat asumsi yang berbeda.
5.      Menekankan pada pembelajaran yang beorientasi pada siswa.
Menurut konstruktivisme, siswa bukan penerima pasif dari sebuah pembelajaran yang telah dirancang untuk mereka. Siswa secara aktif terlibat dalam menentukan apa yang menjadi need mereka dan bagaimana memenuhi need itu.
Read more "Konstruktivisme..."

Rabu, 27 Oktober 2010

Resume Kolb dan Krathwohl

David A. Kolb
Gaya belajar model Kolb terimplisit dalam resource based learning (belajar berdasarkan sumber) yang mengajak siswa melakukan observasi untuk memecahkan masalah.
Gaya belajar yang dicetuskan oleh Kolb adalah gaya belajar yang melibatkan pengalaman baru siswa, mengembangkan observasi/merefleksi, menciptakan konsep, dan menggunakan teori untuk memecahkan masalah. Gaya belajar Kolb terdiri atas dua dimensi, yaitu:
1)      Pengalaman konkret pada suatu pihak dan konseptual abstrak pada pihak lain
2)      Eksperimentasi aktif pada suatu pihak dan observasi reflektif pada pihak lain.
Kolb membagi belajar ke dalam empat tahap:
a.       Pengalaman konkrit
Pada tahap paling dini dalam proses belajar, seorang siswa hanya mampu sekedar ikut mengalami suatu kejadian. Ia belum mempunyai kesadaran tentang hakikat kejadian tersebut. Ia pun belum mengerti bagaimana dan mengapa suatu kejadian harus terjadi seperti itu. Pada tahap ini, siswa melibatkan diri sepenuhnya dalam proses belajar.
b.      Pengamatan aktif dan reflektif
Pada tahap kedua, siswa tersebut lambat laun mampu mengadakan observasi aktif terhadap kejadian itu, serta mulai berusaha memikirkan dan memahaminya. Inilah yang kurang lebih terjadi pada tahap pengamatan aktif dan reflektif.
c.       Konseptualisasi
Pada tahap ketiga, siswa mulai belajar untuk membuat abstraksi atau ”teori” tentang suatu hal yang pernah diamatinya. Pada tahap ini, siswa diharapkan sudah mampu untuk membut aturan-aturan umum (generalisasi) dari berbagai contoh kejadian yang meskipun tampak berbeda-beda, tetapi mempunyai landasan aturan yang sama.
d.      Eksperimentasi aktif
Pada tahap akhir (eksperimentasi aktif), siswa sudah mampu mengaplikasikan suatu aturan umum ke situasi yang baru.
Menurut Kolb, siklus belajar semacam itu terjadi secara berkesinambungan dan berlangsung diluar kesadaran siswa.


David Krathwohl
Krathwohl mengkategorikan domain afektif menjadi lima yaitu :
1.      Receiving
·         Berhubungan dengan kemauan pelajar untuk memperhatikan
·         Pendidik mengarahkan perhatian siswa pada objek belajar
2.      Responding
·         Partisipasi aktif peserta didik
·         Peserta didik tidak hanya memperhatikan tetapi juga bereaksi
·         Menekankan pada pemerolehan respons, berkeinginan memberi respons, atau kepuasan dalam memberi respons
3.      Valuing
·         Penentuan nilai, keyakinan atau sikap yang menunjukkan derajat internalisasi dan komitmen
4.      Organizing a  value set
·         Nilai satu dengan nilai lain dikaitkan, konflik antar nilai diselesaikan, dan mulai membangun sistem nilai internal yang konsisten
5.      Characterizing by value complex
·         Peserta didik memiliki sistem nilai yang mengendalikan perilaku sampai pada waktu tertentu hingga terbentuk gaya hidup.

Referensi :

Read more "Resume Kolb dan Krathwohl..."

Jumat, 22 Oktober 2010

Piaget dan Vygotsky


Jean Piaget
Inteligensi
·         Inteligensi adalah ciri bawaan yang dinamis sebab tindakan yang cerdas akan berubah saat organism itu makin matang secara biologis dan mendapat pengalaman.
·         Teori Piaget disebut genetic epistemology. (Genetik mengacu pada developmental bukan warisan biologis.)
Skemata
·         Skema adalah potensi umum untuk melakukan satu kelompok prilaku.
·         Isi mendeskripsikan kondisi-kondisi yang berlaku selama manifestasi umum. Istilah content juga merujuk pada spesifikasi tertentu menifestasi dari sebuah skema.
·         Schemata dalam organism akan menentukan bagaimana ia akan merespon lingkungan fisik.
·         Schemata dapat muncul dalam bentuk prilaku yang jelas atau dapat muncul secara tersamar (berpikir).
Asimilasi dan Akomodasi
·         Jumlah skemata yang tersedia utnuk organism pada waktu tertentu merupakan cognitive structure.
·         Proses merespon situasi sesuai dengan struktur kognitif disebut asimilasi yaitu penyesuaian antara struktur kognitif dan lingkungan fisik.
·         Akomodasi adalah proses memodifikasi struktur kognitif.
·         Jadi, semua pengalaman melibatkan proses pengenalan, asimilasi, akomodasi, yang kemudian menghasilkan modifikasi struktur kognitif. Modifiksi ini dapat disamakan dengan proses belajar.
·         Asimilasi dan akomodasi disebut sebagai functional invariants karena terjadi di semua level perkembangan intelektual.
Ekuilibrasi
·         Ekuilibrasi adalah tendensi bawaan untuk mengorganisasikan pengalaman agar mendapatkan adaptasi yang maksimal.
·         Ekuilibrasi adalah konsep motivasionalnya Piaget. Bersama dengan asimilasi dan akomodasi, konsep ini dipakai untuk menerangkan pertumbuhan intelektual anak.
Interiorisasi adalah penurunan ketergantungan pada lingkungan fisik dan meningkatnya penggunaan struktur kognitif.
Tahap Perkembangan
1.      Sensorimotor Stage
·         Tidak ada bahasa
·         Anak bersikap egosentris
·         Anak mulai mengembangkan konsep kepermanenan objek.
2.      Preoperational Thinking
a)      Pemikiran Prakonseptual
·         Mulai membentuk konsep sederhana
·         Logika transduktif
b)      Pemikiran Intuitif
·         Anak memecahkan masalah secara intuitif
·         Kegagalan untuk mengembangkan konservasi (kemampuan untuk menyadari bahwa jumlah, panjang, substansi atau luas akan tetap sama meski direpresentasikan dalam bentuk yang berbeda).
3.      Concrete Operations
·         Anak mengembangkan kemampuan konservasi, mengelompokkan, pengurutan (dari yang kecil ke besar dan sebaliknya), dan mampu menangani konsep angka.
·         Masih secara konkret
4.      Formal Operations
·         Mampu menangani situasi hipotetis dan mampu berpikir secara abstrak

Lev Vygotsky
Inti dari teori Vygotsky :
1.      Bergantung pada genetik atau perkembangan
2.      Proses mental yang lebih tinggi berasal dari proses sosial
3.      Proses mental hanya dapat dimengerti jika kita mengerti tool dan sign yang memediasinya.
Natural Process of Development
·         Subjek diberi kesempatan untuk mengerjakan berbagai aktivitas yang bisa diobservasi
·         Penekanannya bukan pada seberapa baik anak melakukan suatu tugas, tetapi pada apa yang anak lakukan pada berbagai kondisi untuk memenuhi tuntutan tugas.
Phylogenetic Comparison
·         Faktor sosial dan budaya harus dipertimbangkan karena kedua faktor ini memediasi perkembangan dari kemampuan intelektual manusia
Sosiocultural Hystory
·                     Perkembangan intelektual bisa merupakan internalisasi tool dari budaya seseorang. Tool muncul dan berubah jika budaya berkembang dan berubah. Jadi, perspektif sejarah sama pentingnya dengan perspektif budaya.
The Social Origins of Higher Mental Process
·         Internalisasi
-          Fungsi mental yang lebih tinggi selalu melalui tahap eksternal karena bermula dari proses sosial
-          Internalisasi menjelaskan konsep egosentris.
·         Zone of Proximal Development
-          ZPD merupakan serangkaian tugas yang terlalu sulit untuk dikuasai siswa secara sendirian, tetapi dapat dikuasai dengan bantuan guru atau orang yang lebih dewasa atau orang yang lebih mampu.
-          Dalam konsep pembelajaran ZPD, dalam ruang-ruang kelas dapat terdiri dari berbagai siswa dengan berbagai usia, diharapkan dalam proses ini siswa yang lebih dewasa atau lebih mampu dapat membantu siswa usianya ada di bawahnya. Sedangkan yang paling dewasa dapat dibantu oleh instruktur atau oleh guru di kelas tersebut. Contoh lain dari ZPD adalah adanya tutor teman sebaya.
Learning, Instruction and Development
·         Tiga pandangan tentang perkembangan yang ditolak Vygotsky:
1.      Perkembangan adalah suatu kondisi yang harus muncul sebelum belajar.
2.      Perkembangan adalah belajar.
3.      Kombinasi dari keduanya.
·         Scaffolding : instruktur atau teman yang lebih kompeten berfungsi sebagai pendukung saat pembelajar mengkonstruksi pengetahuan mereka.

Referensi :
Hergenhahn, B.R & Olson, M.H. 2008. Theories of Learning (Teori Belajar). edisi ke-7. Jakarta : Kencana Prenada Mulia
Driscoll, Marcy P. 1994. Psychology of Learning for Instruction. Boston : Allyn and Bacon
http://sadiman2007.blogspot.com/2010/02/teory-vigotsky.html
Read more "Piaget dan Vygotsky..."
 

Great Morning ©  Copyright by Marisa Andra | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks