Senin, 22 Februari 2010

Respon Individu untuk Resume 1


Andragogi adalah suatu bentuk pendidikan bagi semua orang dewasa yang berlangsung secara berkelanjutan. Andragogi lebih berpusat pada pembelajaran untuk memecahkan masalah.
Orang dewasa memiliki beberapa karakteristik yang membedakan mereka dari anak-anak maupun remaja. Pendidik hendaknya memahami perbedaan itu agar dapat membantu orang dewasa belajar dengan optimal. Pertama, materi belajar bagi orang dewasa harus berhubungan dengan kehidupan mereka karena mereka cenderung menghubungkan apa yang mereka pelajari dengan pengalaman mereka. Dalam kelas orang dewasa, umumnya tiap-tiap  pebelajar mempunyai pengalaman dan tujuan yang berbeda. Hal ini hendaknya dimanfaatkan untuk memperkaya materi belajar. Kedua,waktu belajar orang dewasa terbatas karena banyaknya tanggung jawab mereka. Oleh karena itu, pendidik hendaknya dapat memaklumi hal tersebut. Ketiga, dalam proses belajar mengajar, orang dewasa ingin dihargai. Jadi, libatkanlah mereka dalam pengambilan keputusan.
POD bertujuan untuk memberikan orang dewasa berbagai ketrampilan dan pengetahuan yang akan membantu mereka dalam memecahkan masalah, menyesuaikan diri dan mengubah baik lingkungan sosial maupun diri mereka menjadi lebih baik.
Yang tidak saya mengerti dalam resume yang telah saya buat adalah mengenai Pertimbangan Filosofis POD. Pada bagian ini dijelaskan tentang manfaat berpikir filsafat bagi POD. Namun dari kelima alasan yang saya baca, semuanya lebih kepada pendidik bukan bagi pebelajar. Jadi, saya menjadi semakin tidak memahami sebenarnya apa itu pertimbangan filosofis POD.
Read more "Respon Individu untuk Resume 1..."

Kamis, 18 Februari 2010

Pelajaran dari Tusuk Sate & Tusuk Gigi ; tugas 1


1.      Landasan Psikologi
Pendidikan merupakan proses perubahan dalam hal tingkah laku sebagai hasil dari interaksi. Pada proses pembuatan rangkaian bintang, kami mengalami perubahan tingkah laku. Pada mulanya, kami hanya mencoba untuk menumpuk tusuk gigi menjadi berbentuk bintang. Lama kelamaan kami sudah mulai mencoba cara lain sampai akhirnya kami mencoba untuk merangkai dan mengkaitkannya. Perubahan tingkah laku yang terjadi itu disebabkan adanya interaksi baik antar anggota kelompok maupun dengan Bu Dina. Interaksi dengan anggota kelompok terjadi pada saat kami mendiskusikan cara merangkai bintang tersebut. Interaksi dengan Bu Dina terjadi saat Bu Dina datang ke kelompok kami dan memberikan motivasi dan arahan.
Hasil pembelajaran yang didapatkan menurut taksonomi Bloom :
·         Kemampuan Kognitif
Setelah berhasil merangkai bintang dari tusuk sate, kami sudah dapat mengingat langkah-langkah pembuatannya dengan baik dan jika di kemudian hari kami kembali diminta untuk membuat karya yang serupa, kami sudah mengetahui teknik pembuatannya sehingga pembuatannya tidak lagi memakan waktu yang lama. Kami menggunakan pengetahuan tentang pengalaman kami dan digabungkan dengan pemahaman tentang landasan yang sudah dibaca sebelumnya untuk menulis artikel ini.
·         Kemampuan Afektif
Dalam proses pembuatan bintang, kami belajar untuk menerima, menghargai dan menanggapi pendapat dan ide yang berasal dari anggota kelompok lain. Kemudian kami juga belajar memadukan ide-ide yang berbeda tersebut sehingga terbentuklah sebuah karya yaitu rangkaian bintang yang tidak lepas.
·         Kemampuan Psikomotor
Dalam hal kemampuan psikomotor, kegiatan merangkai bintang ini menambah kemampuan kami dalam merangkai benda terutama dari tusuk sate. Mungkin saja, kemampuan baru yang telah kami peroleh ini akan digunakan kelak untuk membuat karya-karya lainnya.
Kegiatan merangkai bintang ini juga dapat menumbuhkan motivasi. Hal ini disebabkan karena rasa ingin tahu kami. Kami merasa penasaran dengan kegiatan pembelajaran ini dan ingin mengetahui bagaimana sebenarnya sebuah rangkaian bintang yang tidak lepas itu dapat dibentuk dengan hanya menggunakan 5 batang tusuk gigi atau tusuk sate. Motivasi juga muncul karena keinginan untuk menjadi kelompok pertama yang berhasil merangkai bintang yang tidak bisa lepas atau dengan kata lain adanya keinginan untuk mengungguli kelompok lain. Dengan melihat kelompok lain yang sudah bisa merangkai bintang tersebut, kami pun menjadi semakin termotivasi dengan harapan kami bukan kelompok terakhir yang selesai merangkai.
Setiap anggota dalam kelompok mempunyai pandangan yang berbeda mengenai bagaimana tugas ini haru diselesaikan. Selain ide yang berbeda, hasil pembelajaran dari setiap individu juga berbeda. Hal ini disebabkan karena setiap individu mempunyai latar belakang yang berbeda, tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dan juga mempunyai kepribadian yang berbeda pula.
2.      Landasan Sosiobudaya
Manusia merupakan makhluk sosial. Dalam tugas ini, dapat dilihat dengan jelas faktor-faktor yang menyebabkan manusia disebut sebagai makhluk sosial :
·         Sifat ketergantungan manusia dengan manusia lainnya
Tugas merangkai bintang ini akan sulit diselesaikan bila hanya dikerjakan oleh satu orang saja. Tugas ini memerlukan kerja sama dari semua anggota. Semua anggota kelompok saling membantu dengan memegang ujung-ujung dari bintang tersebut sehingga lidi yang satu mudah dikaitkan ke lidi lainnya. Anggota kelompok juga saling berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan yaitu merangkai bintang yang tidak lepas.
·         Sifat adaptabiliti dan inteligensi
Kami dengan cepat bisa mempelajari cara pembuatan bintang tersebut dan mengubah prilaku sesuai dengan hasil pembelajaran itu. Kami juga dapat beradaptasi dengan baik dalam kelompok sehingga proses diskusi dan pengerjaan tugas berlangsung dengan baik.

Referensi : Salam, Burhanuddin. (2002). Pengantar Paedagogik. Jakarta: Rineka Cipta.
Marisa Andra
18 Februari 2010
Read more "Pelajaran dari Tusuk Sate & Tusuk Gigi ; tugas 1..."

Selasa, 16 Februari 2010

Tugas Merakit Bintang Dengan Tusuk Digi yang Wooww!! :)

 



Hari Kamis lalu (11 Februari 2010), kami diberi tugas oleh Bu Dina, tugasnya yaitu membuat rangkaian bintang yang tidak lepas dari 5 batang tusuk gigi dan akhirnya perjuangan kami pun dimulai.

Kelompok kami dengan susah payah merakit tapi tusuk gigi tersebut terlalu keras dan kalau patah tidak boleh ganti lagi dengan yang baru. Setelah sekian lama mencoba, rangkaian bintang itu tidak kunjung selesai.

Kemudian, karena tidak ada satu kelompok pun yang bisa merakitnya, maka Bu Dina membagikan 5 batang tusuk sate kepada masing-masing kelompok. Dengan menggunakan tusuk sate itu, kami mulai mencoba lagi. Pertama kami menggunakan metode trial and error,kemudian kami mencoba membuat sebuah gambar bintang terlebih dahulu di selembar kertas. Lalu, kami mulai menyadari kalau tusuk sate itu tidak akan bergeser bila tusuk satenya saling dikaitan dan saling tumpang tindih. Akhirnya, setelah 15-20 menit mencoba, dengan setiap anggota memegang ujung tusuk sate tersebut dan mengkaitkan ke hiasan, rangkaian bintang kami selesai.

Mengapa tidak bisa membentuk bintang dengan tusuk gigi, namun dengan tusuk sate bisa? Menurut kelompok kami, kendalanya yang dihadapai yaitu tusuk gigi yang terlalu pendek dan teksturnya agak keras sehingga tusuk gigi tersebut sulit untuk dikaitkan. Sedangkan tusuk sate agak panjang dan agak lunak dibagian tengahnya sehingga memungkinkan untuk dibengkokkan dan bisa dikaitkan dengan tusuk sate yang lain.

Kelompok 1
Read more "Tugas Merakit Bintang Dengan Tusuk Digi yang Wooww!! :)..."

Senin, 08 Februari 2010

Prinsip, Perspektif Teoritis, Pendekatan dan Keyakinan Tentang Proses Belajar Mengajar POD ; Resume 2


Prinsip Belajar Untuk POD
Menurut Hommonds, ada empat prinsip belajar untuk POD :
1.      Prinsip praktik
Seseorang tidak akan belajar sesuatu bila tidak melakukannya. Pendidik yang baik akan mendorong pebelajar untuk mempraktikkan apa yang telah mereka pelajari dalam bentuk proyek dan kemudian mendiskusikannya dengan anggota kelompok.
2.      Prinsip hubungan
Pada prinsip ini, pendidik menghubungkan pengetahuan baru yang diberikannya dengan hal-hal yang telah diketahui oleh pebelajarnya. Cara ini akan membantu pebelajar untuk menerima dan memahami materi baru tersebut.
3.      Prinsip akibat
Emosi seseorang berpengaruh terhadap proses belajarnya. Apabila pebelajar tidak menyukai materi pelajarannya, pembimbingnya, rekan-rekannya ataupun lingkungan belajarnya, orang tersebut akan mengalami hambatan bahkan kegagalan dalam proses belajarnya.
4.      Prinsip kesiapan
Seseorang yang siap baik secara fisik maupun mental yang memungkinkannya mencurahkan perhatian sepenuhnya pada materi yang sedang dipelajarinya, akan dapat menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik.
Perspektif Teoritis
Carl Roger
Roger mencetuskan latihan sensitivitas yang bertujuan membantu pebelajar berbagi rasa, menjaga sikap dan membangun hubungan interpersonal diantara mereka.
Paulo Freire
Konsep conscientiziation :
·         Tidak seorangpun yang dapat mengajar siapapun juga
·         Tidak seorangpun dapat belajar sendiri
·         Orang harus belajar bersama
Robert M.Gagne
·         Delapan tipe belajar :
·         Belajar berisyarat : berbentuk classical conditioning
·         Belajar stimulus-response = operant conditioning
·         Belajar rangkaian motorik = belajar ketrampilan
·         Belajar rangkaian verbal : belajar dengan menghafal
·         Belajar diskriminasi berganda : membedakan gejala serupa
·         Belajar konsep : kemampuan berpikir abstrak
·         Belajar aturan : kemampuan merespon isyarat
·         Belajar pemecahan masalah : menemukan jawaban terhadap situasi problematik
Jack Mezirow
Menurut Mezirow, belajar dalam kelompok merupakan cara yang paling efektif untuk merubah sikap dan prilaku individu.
Malcom Knowles
Knowles mencetuskan empat asumsi dasar : konsep diri, pengalaman, kesiapan belajar dan orientasi belajar.
Pendekatan POD
1.      Pendekatan Pemusatan Masalah
Pendidik mengarahkan pengalaman belajar pada kehidupan sehari-hari pebelajar sehingga manfaat dari proses pembelajaran itu dapat langsung dirasakan. Pendekatan ini menggunakan metode diskusi. Contoh pendekatan ini adalah konsep Khit-pen yang mencakup berpikir kritis dan kemampuan problem-solving,
2.      Pendekatan Proyektif
Pendekatan ini dilakukan melalui diskusi mengenai prilaku tokoh pada suatu cerita. Cerita berfungsi sebagai alat proyektif yang dapat memberikan kesempatan pebelajar untuk memahami prilaku tokoh dan dapat merangsang pemberian komentar berdasarkan pengalaman.
3.      Pendekatan Appersepsi-Interaksi
Pendekatan ini dimulai dengan mengidentifikasi masalah dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajar membantu pebelajar mencari kemungkinan pemecahan masalah dan pebelajar mempertimbangkan berbagai pemecahan masalah.
4.      Pendekatan Perwujudan Diri Sendiri
Pendekatan ini mempunyai 4 ciri :
·         Proses terpusat pada pebelajar : pembelajar menciptakan kesempatan untuk melibatkan pebelajar dalam proses belajar mengajar.
·         Peer Learning : pembelajar menganggap pebelajar sebagai teman sejawat yang setara dengan dirinya dan menciptakan suasana yang saling menerima dalam proses belajar.
·         Menimbulkan konsep diri yang positif : pebelajar menyelesaikan masalah dengan self-searching. Hal ini dapat memupuk sikap yang positif dan menambah kepercayaan diri.
·         Daya khayal yang berdaya cipta : menekankan pada penggunaan daya khayal yang melampaui batas analisa fakta yang rasional.

Keyakinan Tentang Proses Belajar Mengajar POD
1.      Tujuan Instruksional
Tujuan Instruksional penting karena tujuan berperan sebagai pemandu untuk mengorganisir dan mengarahkan proses belajar. Selain itu, tujuan dapat berperan sebagai dasar penentuan keberhasilan kegiatan belajar. Caranya dengan membandingkan hasil dengan yang direncanakan.
2.      Proses Belajar
Belajar adalah :
·         Latihan pikiran dan pengumpulan kebenaran dasar (disiplin mental)
·         Pengkondisian atau penguatan
·         Pengembangan pengertian
Daftar Pustaka :
Yusnadi, (200-). Andragogi, Pendidikan Orang Dewasa. Medan: Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan
Read more "Prinsip, Perspektif Teoritis, Pendekatan dan Keyakinan Tentang Proses Belajar Mengajar POD ; Resume 2..."

Pengertian, Asumsi Dasar, Tujuan dan Pertimbangan Filosofis Pendidikan Orang Dewasa (POD) ; Resume 1

Pengertian POD
Andragogi berasal dari kata andr (orang dewasa) dan agogos (membimbing). Menurut Kapp, andragogi adalah proses pendidikan bagi seluruh orang dewasa cacat maupun tidak cacat secara berkelanjutan. Andragogi berbeda dengan paedagogi. Paedagogi berbentuk identifikasi dan peniruan sedangkan andragogi berbentuk pengarahan diri sendiri untuk memecahkan masalah.
Karakteristik Orang Dewasa
·         Memiliki banyak pengalaman hidup
Menghubungkan konsep dengan pengalaman mereka akan membantu orang dewasa sebagai pebelajar karena mereka cenderung menghubungkan pengalamannya dengan apa yang dipelajarinya.
·         Motivasi belajar tinggi
Orang dewasa termotivasi untuk belajar karena mereka ingin mendapat pekerjaan yang lebih baik. Jadi, apa yang mereka pelajari harus aplikatif.
·         Memiliki banyak peran dan tanggung jawab
Tanggung jawab yang besar menyebabkan waktu belajar orang dewasa terbatas. Sebagai pendidik, penting untuk dapat memahami persaingan penggunaan waktu ini.
·         Kurang percaya pada kemampuan diri untuk belajar kembali
Keengganan orang dewasa untuk belajar mungkin disebabkan oleh faktor fisik atau kepercayaan masyarakat yang keliru.
·         Orang dewasa lebih beragam dari pemuda
Pengalaman dan tujuan hidup yang berbeda menciptakan perbedaan individu yang besar. Pebelajar harus memahami dan menerima perbedaan tersebut dan memanfaatkannya sebagai sumber pertukaran pengalaman.
·         Makna belajar bagi orang dewasa
Pengalaman yang diberikan oleh pengajar kepada pebelajar sangatlah penting karena melalui pengalaman inilah belajar memberikan makna.
Beberapa Asumsi Dasar dan Implikasinya
·         Konsep Diri
Orang dewasa perlu dihargai, terutama dalam pengambilan keputusan. Implikasinya, iklim belajar perlu disesuaikan, pebelajar ikut serta dalam mendiagnosa kebutuhan dan perencanaan, pendidik hanya sebagai fasilitator dan penekanan pada evaluasi diri.
·         Pengalaman
Orang dewasa mempunyai pengalaman yang berbeda, metode pengajaran harus dihubungkan dengan pengalaman mereka, proses belajar aplikatif dan belajar dari pengalaman.
·         Kesiapan untuk belajar
Orang dewasa lebih siap untuk belajar. Implikasinya, kurikulum disusun berdasarkan tugas perkembangan dan belajar secara berkelompok lebih efektif.
·         Orientasi terhadap belajar
Orang dewasa ingin secepatnya mengaplikasikan ilmu mereka. Jadi, pada POD, pendidik hanya sebagai fasilitator. Kurikulum dan pengalaman belajar biasanya berorientasi pada masalah.
Beberapa Asumsi Belajar
1.      Orang dewasa dapat belajar
Kemampuan seseorang untuk belajar tidak menurun, yang menurun hanya kecepatan belajarnya.
2.      Belajar adalah suatu proses dari dalam
Belajar merupakan proses yang dikontrol oleh peserta dan melibatkan fungsi intelektual, emosi dan fisiknya.
3.      Kondisi belajar dan prinsip belajar
Proses belajar mengajar yang andragogis meliputi langkah-langkah :
·         Menciptakan iklim yang sesuai
·         Menciptakan perencanaan yang partisipatif
·         Mendiagnosis kebutuhan belajar
·         Merumuskan tujuan belajar
·         Mengembangkan rancangan
·         Melaksanakan kegiatan belajar
·         Evaluasi
Tujuan POD
·         Membantu orang dewasa menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan dengan melengkapi mereka dengan pengetahuan dan ketrampilan.
·         Melengkapi orang dewasa dengan ketrampilan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang mungkin mereka hadapi.
·         Membantu orang dewasa mengubah kondisi sosial mereka.
·         Membantu orang dewasa menjadi individu yang bebas.
Pertimbangan Filosofis POD
Berpikir filsafat bagi POD sangat penting, karena :
·         Untuk menetapkan sebuah program, perlu adanya pertanyaan-pertanyaan.
·         Pendidik sering merasa hanya merupakan bagian kecil dari suatu lembaga.
·         Pendidik membutuhkan landasan untuk menilai keterkaitan antar masalah.
·         Pendidik perlu melihat keterkaitan POD dengan aktivitas masyarakat.
·         Mempersiapkan pendidik melalui pendekatan yang berkaitan dengan pertanyaan mendasar.
Daftar Pustaka :
1.       Yusnadi, (200-). Andragogi, Pendidikan Orang Dewasa. Medan: Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan
2.      Suprijanto,H. (2007). Pendidikan Orang Dewasa; dari Teori hingga Aplikasi. Jakarta: Bumi Aksara.
Read more "Pengertian, Asumsi Dasar, Tujuan dan Pertimbangan Filosofis Pendidikan Orang Dewasa (POD) ; Resume 1..."
 

Great Morning ©  Copyright by Marisa Andra | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks